The Letter

tl

Apa kau pernah merasakan jantungmu berdebar? Jantungmu seperti memompa darah lebih cepat dari sebelumnya yang kau rasakan? Tak hanya jantungmu yang bertingkah aneh, tapi paru-parumu juga ikut bertindak tak wajar. Seperti kau harus menghirup napas dalam-dalam lalu meniupkannya secara perlahan. Menghirup udara hingga terasa begitu penuh, lalu membuangnya seperti mengempis seketika. Jantung dan paru-paru yang bertingkah aneh, kulitmu sepertinya juga ikut-ikutan, entah kenapa pipimu sering memanas tak menentu meskipun saat itu hujan badai datang, tapi ia tetap memanas tak tahu diri.
Menurutmu apa alasan hal aneh tadi?
Apakah kau berpikir itu adalah salah satu jenis penyakit baru yang mematikan? Penyakit yang tidak ada cara menyembuhkannya?
Tak mungkin kau berpikiran sebodoh itu, kan? atau kau memang berpikiran seperti itu? Memangnya berapa sih IQ mu hingga bisa sebodoh itu?
Dan, aku hanya bercanda. Jangan marah padaku karena mengatakan kau bodoh.
Gejala-gejala itu kusebut dengan gejala kurang ajar. Ya, gejala kurang ajar dan sedikit dibumbui dengan rasa senang entah bagaimana caranya.
Apa kau masih bingung dengan penjelasanku?
Aku akan lebih memperjelasnya. Gejala kurang ajar itu hadir karena aku jatuh cinta. JATUH CINTA.
Aku jatuh cinta. Apa kau pernah mengalaminya? Jika kau mengangguk, apa kisah cinta pertamamu berjalan baik? Atau sama denganku? Yang tak tahu arah, berhasil atau gagal.


Kisah cinta pertamaku mungkin sama dengan yang lainnya. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama tepatnya. Awalnya aku tak pernah mau percaya dengan jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu tak logis, bukan? Bagaimana bisa kau bilang ‘mencintai’nya padahal kau pertama kali bertemu dengannya. Sudut pandang mana yang manyatakan bahwa kau mencintainya?
Tapi, itu semua terpatahkan. Aku seperti diberi hentakan kecil tentang ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’ saat aku bertmu dengan dia—sebut saja begitu—pertemuanku dengannya tak begitu spesial, jauh dari kesan romantis atau seperti kisah drama-drama romantis lainnya.
Aku bertemu dengan dia saat acara pelantikan siswa-siswi baru di SMA kami. Aku tak pernah memerhatikan setiap kakak kelas yang maju memberikan pidato mereka tentang masa orientasi, hingga dia maju. Awalnya aku tak melihat bagaimana rupanya. Jujur aku tertarik saat dia berbicara, suaranya begitu menarik perhatianku hingga mataku mencari tahu siapa pemilik suara yang mampu membuatku beralih padanya. Saat aku melihatnya yang begitu menarik—selain suaranya, tanpa sadar aku tersenyum tipis. Aku bahkan dengan senang hati mendengarkan setiap kata yang ia ucapkan tanpa beralih sedikitpun dari wajahnya. Kupikir, itulah aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan dia.
Secara terang-terangan aku melihatnya, memerhatikannya, dan mengamatinya. Tapi, dia sepertinya tidak tahu. Dia lebih terkesan biasa saja saat berpapasan denganku. Memperlakukan seperti juniornya yang lain. Entah dia memang tak tahu atau memang sengaja berpura-pura tak tahu. Yang pasti saat mataku ku bertemu dengan mata miliknya aku merasakan gejala kurang ajar itu dan tersenyum kepadanya. Yang dibalas dengan senyuman tipis lalu berlalu pergi. Seperti itu seterusnya. Tak ada perubahan.
Hingga datang seseorang yang lain yang sepertinya ‘mengincar’ dia. Dia milikku. Seseorang yang lain itu bukan siswi baru. Gadis itu kakak kelasku, yang sekelas dengan dia—sepertinya, aku tak terlalu peduli.
Gadis itu seperti gadis biasa saja, just a girl with nice hair. Saat aku melihatnya, gadis itu cantik, pintar, dan jiwa sosial yang tinggi, itu yang aku dengar dari orang-orang tentang gadis itu. Apa kau berpikir aku iri dengannya? Oh, jangan berpikiran seperti itu. Aku bersyukur dengan rupaku, aku tak menganggap diriku lebih jelek dari gadis itu. No way!!!
Saat gadis itu datang, maka dimulailah kisahku ke tahap selanjutnya. Kau tahu kisah seperti apa? Jika tadi kisahku saat pertemuan pertamaku dengannya hingga aku jatuh padanya, mendapatkan saingan yang memiliki koneksi yang lebih dekat dengan dia. Sekarang apa kau bisa menebak kisah seperti apa?
Kisah sedih—atau kisah yang memerlukan ketabahan batin. Apa kau siap mengetahui kisahku ini? aku harap kau tak menyiapkan tissue atau semacamnya, karena hal itu membuatku merasa semakin menyedihkan.
Hari berganti, daun-daun juga tak betah berada dirantingnya. Hubungan dia dengan gadis itu semakin dekat. Sementara hubunganku dengan dia? Tak ada kemajuan sama sekali. Seperti biasa, aku hanya memandangnya dan saat mataku bertemu dengan matanya dia tersenyum dan pergi. Namun kali ini berbeda, sudah ada seorang gadis yang selalu bersamanya.
Rasa sesak, panas dan kecewa seperti melebur menjadi satu dalam darahku. Aku cemburu? Sepertinya iya. Mengapa aku tak bisa sedekat itu dengannya? Mengapa aku hanya berani memandangnya tanpa berani mengenalnya dengan lebih dekat? Mengapa aku bisa jatuh pada pesonanya? Mengapa aku seperti ini?
Terlalu banyak pertanyaan yang tak terjawabkan olehku. Membuatku berpikir tentang nasib cinta pertamaku.
Aku bisa melihat dari sorot matanya yang menatap gadis itu seperti aku melihatnya. Dia juga menyukai gadis itu. Dan kau tahu apa yang aku rasakan saat aku melihat binar matanya yang dia arahkan untuk gadis selain diriku?
Ya, tentu saja perih. Sangat perih. Aku mendeskripsikannya seperti digoreskan pisau namun tak dalam.
Saat aku mencuri pandang padanya, dia hampir selalu tersenyum. Namun, senyuman itu bukan untukku. Tak ada alasan dia untuk tersenyum padaku. Aku tak memiliki hubungan khusus dengannya. Haruskan aku senang melihat senyumannya? Tidak, aku tak senang dengan senyumannya, karena senyuman itu bukan aku yang membuatnya tersenyum. Jika ada pepatah yang mengatakan ‘kau tersenyum, akupun tersenyum’. Ini tidak berlaku jika kisahnya sama denganku. Jauh dalam hatiku aku sangat sedih. Kau tersenyum, aku meratap.
Mengenaskan SEKALI.
Lambat laun, secara perlahan dan langkah demi langkah, aku berhenti mengharapkan dia. Berhenti disini bukan berarti aku langsung membenci dia, aku mulai tak mencari keberadaannya, tak lagi menampilkan wajah terkesima saat bertemu pandang dengan sepasang mata bulat miliknya itu. Kau tahu mengapa? Tentu saja kau tahu, bukan? Anggukkan saja kepalamu jika kau mengerti.
Aku tak pernah bertemu dengannya lagi. aku mulai sibuk dengan tugasku sebagai seorang pelajar, dan sepertinya dia lebih sibuk dariku mungkin. Mengingat laki-laki itu adalah ketua di sekolah ini. dan untuk apa lagi aku mengingatnya, memikirkannya, atau bahkan mengkhawatirkan keadaannya, dia saja sepertinya tak pernah memikirkanku atau yang lebih parahnya lagi dia tak sedikitpun tau tentang keberadaan diriku dissekolah ini.
Tapi kau tentu saja tau kan setiap hal yang kita inginkan kita harus berusaha terlebih dahulu, dan setiap usaha tentu saja tak berjalan lancar terus, tentu harus ada tanjakan-tanjakan yang harus kita lalui dalam usaha untuk mencapai hal yang kita inginkan.
Dan ini masalahnya ‘Aku sangat susah mengalihkan pikiranku untuk tidak memikirkannya dan juga sulit meluruskan hatiku agar tak berbelok kearahnya’. Hei, kalian tau kan, Move On itu tak semudah yang kalian bayangkan? Apalagi yang sepertiku, yang baru pertamakalinya merasakan yang namanya penyakit jatuh cinta ini. bohong besar jika aku bercerita kepada teman dan sahabatku bahwa aku baik-baik saja, aku tak menggapnya lagi. itu semua hanya pengalihanku saja agar aku tak lagi diliputi rasa sakit—mungkin,
Kalian tau mengapa aku bisa merasakan hal seperti ini? apa kalian mau membantuku untuk menjawab atas arti dari perasaan ini? apa aku mulai merasakan gejala penyakit lain karena begitu lama aku tak mau mencarinya lagi diantara sudut sekolah? Apa ini namanya….rindu? apa kalian juga pernah dilanda rindu karena tak bisa bertemu dengan orang yang jelas telah membuatmu sedih—mungkin? Hei, kalian tolong jawab pertayaanku jangan hanya diam dan mengasihani nasibku ini!
Waktu berganti dan tentu saja kehidupanku tak secepat perubahan waktu yang terjadi didunia ini. gosip-gosip mulai terdengar tetang dia. Ya dia, kalian masih ingat bukan dengan dia yang mencuri perhatianku pada saat pertama kali aku melihatnya?
Kudengar dia baru saja putus dengan perempuan yang membuatku berhenti mencarinya disudut sekolah.
Dia
Putus
Itu berarti dia tak lagi bersama dengan perempuan berparas manis itu lagi kan?
Menurutmu bagaimana perasaan dan reaksiku saat mengetahui hal ini? apakah kalian berpikir aku kegirangan? Melompat senang kesana kemari? Oh, come on, aku tidak sekurang ajar itu, bahagia disaat dia baru saja mengakhiri hubungannya dengan perempuan manis itu. Tapi, jika aku jujur, rasa senang itu memang ada tapi standarnya sangat biasa saja. Standar dalam hati ‘Hey lihat, dia ternyata belum berjodoh dengan perempuan itu’. Ya, hanya sebatas itu.
Sejak berita bahwa dia sudah putus, aku mulai mengikutinya lagi. namuan kali ini bukan seperti mengikuti yang kalian khayalkan. Aku mengikutinya melalui akun sosial media yang dia miliki. Zaman sekarangkan sangat canggih, tentu saja dia memiliki akun sosial media untuk eksistensinya.
Dan apa yang aku dapati setelah mengikuti akun miliknya tersebut. Aku semakin yakin bahwa dia adalah laki-laki yang menyedihkan. Dari setiap status atau picture yang dia share berisi kalimat kekecewaan. Dari sini aku bisa menarik kesimpulan. Apa kalian tau apa yang aku maksud?
Dia patah hati.
Jadi, dia yang diputuskan oleh perempuan itu? Dan lebih menyakitkan lagi perempuan itu menjalin hubungan dengan laki-laki lain.
Oh laki-laki yang malang.
Apakah aku baru saja mengatakan bahwa dia bernasib malang? Jika dirinya saja yang pernah menjalin hubungan dengan orang dicintainya dan kemudian orang tersebut berkhianat aku menyebutnya ‘malang’, lalu bagaimana dengan nasibku yang hanya melihat dari jauh orang yang aku cintai—mungkin?. Jika dia malang, aku apa? Mengenaskan? Menyedihkan? Atau mengesankan?
Menurutmu apa?
Aku meledek setiap statusnya yang mengatakan bahwa dia sangat mencintai perempuan tersebut meski perempuan itu tak menggubris perasaannya.
Rasanya dia terkena karmanya sendiri. Karma masih berlakukan? Aku yang menaruh perhatian yang lebih padanya tapi dia tak berniat sedikitpun membalas perhatian tersebut.
Bisa jadi begitu kan?
Aku yang biasanya hanya membaca tanpa memberikan sedikitpun jejak bahwa aku sudah mengikutinya, akhirnya teruntuhkan juga saat dia sudah terlalu lama larut dalam situasi patah hati tersebut.
Bukankah dia seorang laki-laki? Itu berarti dia harus kuat kan? jangan terpuruk selama berminggu-minggu hanya karna perempuan? Bagaimana menurutmu? Dia cengeng? Atau dia terlalu melankolis menjadi seorang laki-laki? Jangan-jangan kamu pikir dia adalah laki-laki yang terlampau manis hingga sulit untuk move on?
Aku pun memberanikan diri untuk meninggalkan sebuah komentar pada postingannya. Bukan sebuah kalimat penyemangat maupun kalimat duka bersedih hati yang aku tuliskan. Apa kamu tau apa yang aku tulis? Kuharap kamu tidak terkejut dengan jawabanku.
Aku…meledeknya.
MELEDEKNYA
Apa kamu menyalahkanku karena baru saja meledek seorang laki-laki yang bersedih hati karena ditinggal sang kekasih hati? Ya, itu terserah kamu saja.
Aku hanya mengatakan ‘Kamu kapan berhenti sedihnya? Lama amat sedih-sedihnya, laki-laki kok sedih berlarut-larut’
Ya, begitulah aku menuliskannya. Tidak begitu jahat, kan? masih batas normal. Untung saja jariku tak menulis ‘Hei, kamu hobinya sedih-sedihan ya?’
Apa kamu tau akibat komentarku tersebut? Sepertinya tebakanmu benar, atau meleset?
Dia tidak menggubrisnya. DIA TIDAK MENGGUBRISNYA!
Aku tidak tau mengapa dia tak menggubris komentarku itu. Mungkinkah dia memang tipe cuek. Mungkinkah dia memang menganggapku tidak penting? Atau apa? Menurutmu mengapa dia tak menggubris komentarku?
Aku merasa dia terlalu meremehkan kehadiranku. Aku ingin membalas rasa kecewaku terhadapnya. Aku ingin dia merasakan kekecewaanku. Kuharap kamu tenang, aku tak akan mencelakainya apalagi membunuhnya, aku bukan psikopat.
Semenjak kejadian itu, aku berusaha ramah kepadanya dalam setiap postingannya. Memberikannya semangat secara tidak langsung. Bahkan aku memberanikan diri untuk chat dengannya meskipun bermoduskan pelajaran.
Dia terkesan dingin, dia sepertinya juga tak terlalu senang dengan chat yang aku kirimkan. Dia lebih terkesan tidak suka setiap aku menanyakan hal yang menyangkut dirinya.
Aku tak menanyakan hal yang macam-macam kok. Aku hanya menanyakan kapan ulang tahunnya. Dan dia merasa tak perlu memberitahukanku hal tersebut. Bahkan jawabanyya terbaca ketus oleh mataku. Apa dia benar-benar merasa terganggu dengan adanya kehadiranku? Cih, sombong sekali dia.
Hingga suatu hari dia membuatku merasa menyedihkan. Dia tulis bahwa dia ingin memblokir akunku. BLOKIR. Kamu tahukan apa itu artinya? Apakah dia berpikir bahwa aku seorang pengganggu? Aku seorang parasit? Aku seorang virus yang harus dihapus? Aku seorang teroris?
Tak sempat berpikir panjang, aku langsung menuliskan hal yang selama ini aku simpan, perasaanku yang selalu aku rahasiakan. Aku menulisnya. Ya, seperti pengakuan perasaanku kepadanya.
Aku mengatakan bahwa aku menyukainya saat dia memberikan pidato pembuka murid baru. Aku mulai mengikutinya sejak saat itu, aku mengatakan semuanya.semuanya. tapi, apa kamu tahu apa respon yang aku terima?
Dia kembali tak menggubris pengakuanku yang memalukan itu. Dia jahat bukan? Dia bahkan tak tahu rasanya menulis sebuah pengakuan untuk seseorang namun orang itu tak memedulikan perasaannya yang selama ini dia kunci dengan erat.
Aku hanya mengasihani diriku sendiri. Sudah membuat pengakuan, tapi tak dipedulikan sama sekali.
Dan akulah yang memblokirnya. Lebih baik yang memblokirnya. Kali ini aku akan berusaha sekali untuk melupakan dia si orang jahat tersebut. Mau tidak mau harus kulakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s