My Fake Husband [2] Its not Bad Day, Maybe?

MFH

Tittle : My Fake Husband [2] Its Not Bad Day, Maybe?

Author : Yufikee

Cast : Kim Taeyeon (GG), Kai (EXO)

Length : Series

Genre : Romance

Rating : PG 16

Disclaimer : Art and fanfict by me

prev part : [0,5] [1]

==

Jongin kembali memperbaiki selimut Taeyeon yang sudah mulai berantakan. Ia juga memperbaiki posisi tidur Taeyeon yang mulai aneh. Ia menatap Taeyeon yang sedang tertidur pulas. Semenjak Taeyeon pingsan, wanita itu sepertinya juga sangat mengantuk.

Jongin sangat takut saat mengetahui Taeyeon pingsan. Ia sangat merasa bersalah pada Taeyeon. ia mengakui itu. Pria itu menghembuskan nafas kasar, tak jarang pikirannya kembali kalut. Perasaan bersalah selalu muncul saat ia menatap wajah Taeyeon. memang ini akan merugikan dirinya sendiri karena Soyeon mungkin tak pernah menerimanya. Cinta memang butuh pengorbanan, bukan?

Jongin beranjak menuju sebuah permadani kecil di kamar Taeyeon.ini sudah cukup larut. Matanya sudah mulai meredup. Pria itu berbaring dan melirik sekilas ke arah Taeyeon. ia juga berharap Taeyeon akan baik-baik saja.

“Mianhae, Taeyeon-ssi” setelah itu Jongin pun larut dalam tidurnya.

==

Suasana saat sarapan kali ini benar-benar terasa sangat mengerikan. Hanya terdengar bunyi sumpit dan magkok yang beradu. Taeyeon tak berbicara sejak ia terbangun. Ia juga tak mempersalahkan Jongin yang tidur di lantai kamarnya. Jongin dapat merasakan bahwa wanita itu benar-benar dalam keadaan yang buruk.

“Taeyeon-a?” ucap Appa sedikit pelan. Pria tua itu sedikit takut jika saja putri sulungnya itu mengamuk tak jelas saat sarapan kali ini.

Taeyeon tak mengubrisnya. Wanita itu tetap melanjtkan makan dalam diam dan tentu saja dengan wajah mengerikan. Jongin menatap Taeyeon lama. Wanita itu menyadari tatapan Jongin yang membuatnya sedikit salah tingkah. Taeyeon mencoba mengabaikan tatapan dari Jongin tersebut. Setelah mencoba nertahan selama beberapa detik, akhirnya Taeyeon tak bisa lagi bersabar. Taeyeon membalas tatapan Jongin padanya.

Jongin sedikit terkejut saat Taeyeon membalas tatapan matanya dengan tajam. Tampak jelas dari mata wanita itu aura kemarahan yang luar biasa memuncak. Tapi pria itu berusaha bersikap seperti biasanya, yaitu sikap tidak peduli dengan kemarahan Taeyeon.

“Taeyeon-a, Eomma harap kau tak menghancurkan hari pernikahanmu besok” Mulut Eomma sepertinya memang tak pernah memperhatikan putri sulungnya itu. Sudah terlihat jelas wajah Taeyeon yang tak mengenakan, namun wanita paruh baya itu tetap berucap yang bisa membuat Taeyeon marah dan semakin marah.

“Aku akan berusaha” balas Taeyeon datar. Setidaknya wanita itu menjawab perkataan eommanya.

Jongin tersenyum mendengar ucapan Taeyeon. walaupun singkat dan terdengar datar, namun setidaknya Taeyeon mematuhi Eommanya. Tipe yang ia sukai, yaitu mematuhi orang tuanya terutama Eomma. Sebuah poin plus untuk Taeyeon dimata Jongin.

“Jongin-ssi, apa keluargamu tidak berada disini?” pertanyaan kembali meluncur dari Appa. Jongin sedikit terkejut namun segera mungkin ia merubah ekspresi keterkejutan tersebut menjadi seulas senyuman. Taeyon yang melihat senyuman tersebut mendengus pelan.

“Mereka di luar negeri, tapi tenang saja eommanim, abeoji, Hayeon-a, mereka sudah mengetahui kabar bahagia ini”

Taeyeon mengutuk setiap kata yang keluar dari mulut Jongin. Dasar pembohong yang benar-benar hebat. Kabar bahagia? Untuk siapa? Bagi Taeyeon ini kabar duka yang berlarut-larut.

Terlihat senyuman sumringah ketika Jongin telah mengucapkan sebuah kebohongan lagi di depan keluarga Taeyeon.

“Jongin-a?” Taeyeon bersuara sangat lembut. Jongin yang mendengar panggilan tersebut sempat kaget dan sedikit aneh. Wanita ini bahkan tak pernah memanggilnya Jongin kecuali lengkap dengan nama marganya. Dan kali ini Taeyeon memanggilnya ‘Jongin-a?’ sebuah keajaiban bagi Jongin.

Jongin menoleh ke arah Taeyeon yang tepat duduk di sampingnya “Ne?” entah kenapa ia malah gugup saat Taeyeon berlaku lembut padanya.

“Apakah kita harus melakukan bulan madu?” mulut Jongin menganga tak percaya. Apa yang terjadi pada wanita tua ini? Apa dia baru saja lupa ingatan bahwa mereka hanya berpura-pura?

Keluarga Taeyeon juga tersenyum menggoda ke arah Jongin saat Taeyeon mengatakan hal tersebut.

“Taeyeon-a, kau ingin sekali segera menikah, ya?” goda Appa

Taeyeon tersenyum manis dengan terpaksa. Sedikit memberi kejutan pada Jongin yang selalu membuatnya kaget oleh kalimat karangan yang di buatnya dengan rapi, dan Taeyeon juga ingin memberi kejutan juga untuk Jongin dengan caranya sendiri.

==

“Aku akan menunggumu disini” sahut Jongin saat Taeyeon mulai berjalan menjauh.

Taeyeon menoleh kesal. Jongin tetap tak merubah kebiasaan mengemudinya yang selalu sukses membuatnya sakit jantung. “Terserahmu” balasnya singkat. Kemudian wanita itu kembali masuk. Wanita itu terus berjalan sambil menggerutu tak jelas. Jongin yang melihat perangai Taeyeon tersebut hanya bisa tersenyum singkat.

Jongin melihat dan memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang memasuki perusahaan tempat Taeyeon bekerja, entah kenapa tiba-tiba pikirannya memikirkan sesuatu yang mungkin saja bisa di kategorikan ‘gila’ namun ini sesuatu yang pasti Taeyeon tak akan menyesal menerima tawaran darinya.

Jongin berjalan memasuki kawasan perkantoran tersebut. Wajahnya yang terlihat dewasa mengejutkan setiap orang yang melihatnya. Sudut matanya tampak melirik ruangan yang di carinya. Tentu saja ruangan Kwon Jiyong.

Jongin memnag pernah melihat wajah Jiyong tersebut dan ia yakin memorinya sangat kuat untuk sekedar mengingat rupa orang yang baru ia temui. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seriangan khas miliknya. Jiyong sudah ada di depan matanya.

Dengan melangkah beberapa langkah lagi Jongin pun menghampiri pria dengan pembawaan yang ramah tersebut. ‘Memang seperti tipe wanita pada umumnya’ batin Jongin.

“Kwon Jiyong-ssi?” sahut Jongin sembari menundukan badan sebagai tanda hormatnya.

Pria yang disapa tersebut sedikt heran dengan kedatangan Jongin. Namun sikapnya yang ramah membuatnya juga membalas sapaan tersebut. “Ne?”

Jongin menatap Jiyong “Aku Kim Jongin, sepupu dari Kim Taeyeon, wanita yang bekerja dengan anda”

Jiyong berpikir sebentar. Ia tersenyum saat mengetahui laki-laki yang di hadapannya adalah sepupu dari wanita yang ia sukai. “Kim Taeyeon? benarkah? Ada apa Jongin-ssi?”

“Aku ingin kita berbicara berdua bagaimana? Ini tentang Taeyeon noona-ku”

Sedikit menimbang-nimbang dan memikirkan jadwalnya akhirnya Jiyong menyetujui ajakan Jongin tersebut “Baiklah”

==

Taeyeon yang baru saja meminta cuti selama seminggu dengan alasan keluarga -yang sebenarnya karena acara pernikahannya dengan Jongin-  keluar dari kantor tersebut dan kembali keparkiran tempat dimana Jongin akan menunggunya.

Sudah hampir 10 menit wanita itu menunggu Jongin di depan mobil laki-laki itu dengan wajah kesal. Kalau begini Taeyeon-lah yang menunggu Jongin bukan sebaliknya.

Cukup banyak yang heran dengan permintaan cuti Taeyeon ini. Faktanya, wanita ini bahkan jarang sekali mengambil cuti, hampir setiap kali ia mendapatkan cuti, wanita itu selalu menolaknya. Tentu saja dengan alasan seorang Kwon Jiyong.

Taeyeon juga tipe wanita yang tertutup. Hampir 2 tahun ia bekerja, Taeyeon tak punya kenalan dekat sama sekali. Paling tidak Jaekyung-lah yang rajin mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin kantor.

Taeyeon mengelap sedikt keringat yang hampir menetes dari dahinya. Matanya terbelalak kaget saat ia menangkap dua sosok yang sangat dikenalnya, walaupun satu diantaranya taeyeon baru mengenal selama 3 hari, tapi orang itu sangat mudah di kenali Taeyeon.tentu saja si ‘Bocah Sialan, calon suaminya’.

Taeyeon memicingkan matanya mencoba menerka apa yang di lakukan oleh dua orang itu –Jongin dan Jiyong- . mereka berdua terlihat tertawa ringan bersama. Taeyeon sedikit takut jika saja Jongin mengatakan bahwa dirinya akan menikah, karena satu kantor tak tahu dengan kabar pernikahannya itu. ‘Apa yang dilakukan oleh bocah itu?’

Jiyong tampak meninggalkan Jongin dan sedikit melambaikan tangannya. Setelah Jiyong tak lagi terlihat Jongin melangkahkan kakinya ke tempat Taeyeon yang sedari tadi penasaran dengan yang dilakukan oleh dua orang itu.

Jongin menatap sekilas Taeyeon. ia tak tersenyum sama sekali, sangat berbeda saat laki-laki itu mengobrol akrab dengan Jiyong. ‘Dia benar-benar jago berakting’ setidaknya begitulah isi pikiran Taeyeon untuk Jongin.

“Ayo masuk!’ teriak Jongin dari dalam mobil. Sepertinya Taeyeon tak menyadari bahwa Jongin sudah masuk terlebih dahulu. Taeyeon pun dengan segera masuk. Ia sangat penasaran dengan yang di lakukan Jongin kepada Jiyong.

“Apa yang kau lakukan dengan Jiyong?” tanya Taeyeon setelah mereka berdua cukup lama terdiam selama Jongin mengemudi

“Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa kau akan menikah denganku?” jongin balik bertanya sambil menyeringai

“APA??” mata Taeyeon bisa saja keluar dari tempatnya jika saja wanita itu lebih meningkatkan volume suaranya.

Jongin mendengus mendengar suara Taeyeon. ia bisa tiba-tiba tuli jika wanita tua ini selalu mengeluarkan energinya untuk meninggikan suaranya. “YA! Kenapa kau berteriak?”

“Tentu saja aku kaget, jika kau mengatakan hal yang memalukan seperti itu pada atasanku. Kau tahukan, orang perusahaan bahkan satupun tak tahu aku akan menikah terpaksa dengan seorang bocah asing sialan sepertimu” ucap Taeyeon tanpa henti

Jongin mengernyitkan keningnya. Wanita tua ini terlalu cerewet. Dan lagi-lagi ia di panggil Bocah sialan. Jongin benar-benar mengutuk julukan tersebut.

“Apa kau pikir aku akan mengatakan padanya bahwa aku menikahi wanita tua yang tak laku sepertimu? Apa kau tak mendengar dengan jelas, bahwa kalimat tadi hanya pertanyaan!” kali ini Jongin menyahut dengan nada kesal

Taeyeon mendecak dan terdiam. Ia lebih memilih mengalah melawan Jongin daripada tenaganya habis untuk melawan bocah sialan yang jago akting tersebut.

Jongin mencuri-curi pandang kepada Taeyeon sekilas. ‘Sepertinya ia benar-benar kesal’

“Aku mendapatkan nomor ponselnya” sahut Jongin tiba-tiba

Taeyeon menoleh sekilas dan kembali memandangi ke arah jendela. Jongin kesal dan merasa terabaikan “Aku mendapatkan nomor Kwon Jiyong, pangeran impianmu itu”

Kali ini Taeyeon dengan cepat menoleh ke arah Jongin dengan mata yang berbinar-binar, dan jujur Jongin sedikit jijik melihat reaksi tersebut.

“Benarkah? Bagaimana caranya kau bisa mendapatkan nomor ponselnya Jiji Oppa?” tanyanya penasaran dengan senyuman yang merekah di wajahnya.

Jongin kembali mengernyitkan keningnya “Jiji oppa? Panggilan aneh macam apa itu?” sindirnya diiringi kekehan menghina

Taeyeon menjitak kuat kepala Jongin yang membuat laki-laki itu sedikit meringis dan menatap tajam Taeyeon “Sudah jawab saja” ucap Taeyeon ketus

Jongin tersenyum jahil “Aku akan memberitahumu saat kau sudah resmi menjadi istriku, dan saat itu pula aku akan memberikan nomor ponselnya padamu”

Taeyeon yang mendengar hal itu hanya bisa menganga tak percaya “Bocah ini memang kurang ajar!”

==

“Bagaimana persiapan mentalmu, Eonni?” tanya Hayeon saat ia dan Taeyeon menghabiskan waktu di sebuah perpustakaan umum di daerah sekitar rumah mereka.

Taeyeon menjeda bacaan novel favoritenya dan beralih menatap Hayeon. “Kau tahu, eonni bena-benar tak mengenal bocah itu”

Hayeon menatap Taeyeon penuh tanda tanya “Jika tak mengenal, mengapa kalian terlihat sangat mesra?”

Taeyeon melongo. Mesra? Dari sudut pandang yang bagaimana?

“Mesra? Kau pikir bertengkar itu mesra?” tanya Taeyeon tak percaya

Hayeon mengangguk “Hm.. persis seperti di drama yang selalu tayang tiap minggu pagi, bertengkar tapi kelihatan sangat romantis” ujarnya

Taeyeon mengedikkan bahunya tak peduli. Sepertinya, Jongin memang sukses meracuni seluruh isi pikran keluarganya dengan waktu singkat. “Apa yang selalu ada di otakmu itu kisah drama? Hayeon, jangan terlalu percaya dengan kisah buatan khayalan seperti itu”

Hayeon mendecak, merasa tidak setuju dengan komentar Taeyeon “Jika Eonni tahu, cerita drama itu juga berasal dari kisah nyata dengan sedikit sentuhan manis agar penonton menyukai cerita tersebut”

“Dan cerita manis yang di karang itulah yang tidak terjadi di dunia nyata” komentar Taeyeon lagi

“Terserah. Omong-omong, Jongin Oppa memang tidak akan mendatangi keluarganya saat pesta pernikahan besok?” Hayeon melupakan perdebatannya tentang drama dan beralih menanyakan pernikahan taeyeon

“Tidak! Bocah itu kan memang gila” ucap Taeyeon pedas

Hayeon menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis itu masih tak percaya dengan sikap Eonni-nya itu kepada Jongin oppa yang sebentar lagi akan menyandang status suami Taeyeon.

==

“Ingat, jangan pernah kau mendekat ke arah ranjangku, mengerti?” suara Taeyeon memerintah kepada Jongin. Ini memang belum terlalu malam. Masih sekitar pukul 8. Tapi, eomma dan appa menyuruh Taeyeon dan Jongin beristirahat segera mengingat pukul 10 pagi mereka akan melaksanakan pernikahan. Dan tentu saja mereka kembali sekamar.

“Siapa juga yang akan mendekatimu wanita tua?” ucap Jongin sedkit menghina

Taeyeon menggeram dan melemparkan tatapan membunuh kepada jongin “Kau itu tetap saja laki-laki dan aku wanita, aku harus selalu waspada padamu, Bocah”

Jongin menatap Taeyeon dari atas ke bawah lalu ia pun menyunggingkan sebuah senyuman yang terkutuk menurut Taeyeon.

“Aku tak selera dengan wanita tua kurus sepertimu, jadi tenang saja kau tak akan kuladeni”

Sial! Bocah ini semakin lama mulutnya tak terkendali. Jika saja pemerintah tak membuat undang-undang tentang pembunhan, bisa saja saat ini Jongin telah mati di tangannya.

Taeyeon meringkuk di balik selimut,  mencoba menghentikan perdebatan yang jika di lanjutkan akan memakan waktu yang banyak dan juga energi yang ekstra. Taeyeon juga sedikit heran, ia menyadari perubahannya saat bertemu Jongin. Jika dulu ia adalah seorang yang pendiam namun kali ini ia menjelma menjadi seorang yang mempunyai omongan yang banyak dan pedas jika bersama Jongin. Sepertinya Jongin membawa sikap buruk untuknya.

Jongin membaringkan tubuhnya pada sebuah karpet ukuran standar yang berada 1 meter dari ranjang Taeyeon. ia hanya bisa mendapatkan sebuah selimut dan bantal kecil yang sebenarnya boneka sebagai alas kepalanya. Laki-laki itu cukup bersyukur dengan cuaca di Busan yang tidak begitu dingin. Ia melirik Taeyeon yang meringkuk di dalam selimut, dan entah kenapa Jongin yakin Taeyeon belum tertidur.

“Taeyeon, aku tahu kau belum tidur” ucapnya dan mendudukkan posisinya

Taeyeon tak berkutik, wanita itu betah dengan posisi sebelumnya

Jongin menghela nafas panjang “Saat kita menikah, kau dan aku hanya akan bertingkah sebagai suami-istri saat di depan keluargamu selebihnya kita seperti biasa saja”

Taeyeon terdiam mendengar ucapan Jongin tersebut. Ia juga memikirkan hal itu hingga matanya tak bisa mengantuk.

“Apakah kita tak perlu membuat surat perjanjian?” Taeyeon akhirnya mengeluarkan suaranya dan membuka selimut yang tadi membalut seluruh tubuhnya.

Jongin terdiam, namun detik berikutnya ia tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Taeyeon tersebut. Taeyeon tentu saja heran melihat reaksi berlebihan dari Jongin atas ucapannya tadi.

“Apa kau pikir ini drama? Drama apa yang kau tonton? Full house?” tawa Jongin semakin meledak dan terdengar mengejek.

Taeyeon geram, dengan spontan wanita itu melempar dengan kuat sebuah gulingnya yang tadi di peluknya hingga mengenai tepat wajah Jongin dan hal itu berhasil menghentikan tawa Jongin tersebut.

“YA! Kenapa kau melemparku?” bentak Jongin tak terima

“Kau yang lebih dulu membuatku kesal” balas Taeyeon tak kalah sengit

Jongin mengerucutkan bibirnya “Aku rasa perjanjian seperti itu tak perlu harus di tuliskan, bukankah kita sudah tahu bahwa hanya di depan keluargamu kita sebagai sepasang suami-istri selepas itu kita hanya seorang… teman, mungkin”

Taeyeon mengangguk mengerti. Sepertinya ucapan Jongin benar. Tak perlu surat perjanjian seperti yang ada di drama yang penting saling mengerti posisi masing-masing, itu saja sepertinya sudah cukup.

“Jangan lupa soal Jiji Oppa, kau berjanji akan mengatakan padaku esok seusai pernikahan” ucap Taeyeon kembali membuka suara

Jongin tersenyum sinis “Tenang saja, kau hanya butuh bersabar sehari untuk Jiji Oppa-mu itu”

“Senang bekerja sama denganmu,Jongin-ssi”

Jongin tersenyum singkat “Ne, aku harap aku juga begitu”

==

Suasana altar gereja nan sederahana itu tiba-tiba saja di sulap menyerupai taman bunga berwarna ungu. Bau lavender cukupp jelas tercium aromanya. Wajah sumringah Tuan dan Nyonya Kim terlihat jelas saat menyambut tamu yang tidak terlalu banyak. Hayeon juga tampak anggun menggunakan gaun selutut berwarna cream yang menambahkan kesan dewasa pada dirinya. Para tamu tampak nyaman dengan suasana yang di berikan.

Pengantin wanita –Taeyeon- tampak meremas kedua tangannya. Ini memang hanya pernikahan tipuan karangan Jongin dengan persetujuan dirinya. Namun, ini tetap saja acara sakral yang baru di rasakan oleh dirinya selama ia hidup 29 tahun.

Tinggal beberapa menit lagi, taeyeon akan melepaskan status ‘wanita tua’ yang di sandangnya, yah walaupun ia menikah tipuan, setidaknya Hayeon tak akan mengejeknya lagi sebagai ‘Eonni yang tak laku’ padanya.

Taeyeon melirik pintu yang ternyata di buka oleh appanya sendiri. Mata Tuan Kim tampak berkaca-kaca. Ia terharu akhirnya Taeyeon bisa menikah dengan laki-laki yang ia prediksi sendiri sebagai laki-laki yang baik.

“Appa?” panggil Taeyeon lirih. Wanita itu berlari dan segera memeluk pria tua itu dengan erat

Tuan Kim membalas pelukan tersebut tak kalah eratnya, namun kali ini ia menangis.

“Akhirnya kau menikah, Taeyeon-a. Jangan sia-sia kan pernikahanmu dengan Jongin. Appa berharap kalian bisa akur selamanya” ucap Tuan Kim dengan sedikit terisak

Taeyeon terenyuh. Jika saja Appanya tahu ini hanya lah sebuah tipuan, mungkin saat ini juga appanya akan jantungan mendadak. Taeyeon merasa sangat bersalah dengan tindakannya kali ini.

Kedua orang itu akhirnya melepasakan pelukan erat tadi. Taeyeon menatap appanya dengan wajah merah menahan tangis. Tuan Kim tersenyum bahagia saat melihat putrinya akan menikah.

“Ayo kita ke altar, sebentar lagi acaranya akan kita mulai”

Taeyeon tersenyum dan mengangguk lalu melangkahkan kakinya menuju altar yang akan menjadi sebuah sejarah baru dalam hidupnya.

==

Jongin menambah laju kecepatan mobilnya. Tuxedo yang di kenakannya terlihat sangat kacau dengan keringat yang mengalir dari dahinya dan wajah penuh kecemasan.

20 menit yang lalu ia baru saja menerima pesan dari Soyeon bahwa Jiyo tertabrak sebuah sepeda motor saat anak itu ingin menyebrangi jalan hendak mengambil nilai ujian mewarnainya. Jongin panik setengah mati mengetahui hal itu. Pikiran laki-laki itu sudah terpenuhi dengan Jiyo dan Soyeon.

Jongin juga melupakan acara pernikahannya dengan Taeyeon yang pastinya sedang berlangsung saat ini. Jongin benar-benar melupakan hal itu.

Mobil Jongin telah memasuki kawasan Seoul Hospital, dengan segera ia melangkahkan kakinya yang panjang untuk menemui Jiyo yang ada di salah satu kamar di rumah sakit ini. Tak perlu waktu lama untuk Jongin menemukan kamar penginapan Jiyo. Ia dengan cekatan masuk dan berlari menghampiri Jiyo yang terbaring lemah dengan sebuah perban di siku kirinya.

“Jiyo-a, kau tak apa?” tanyanya penuh rasa khawatir. Jongin memang menyayangi Jiyo dan bahkan ia telah menganggap bocah cilik ini sebagai putrinya. Oleh karena itu tak jarang orang awam akan mengatakan bahwa Jongin adalah Appanya Jiyo.

Soyeon mendekat ke arah Jongin “Kai-a, kau tak perlu sekhawatir ini, Jiyo hanya mengalami luka kecil” ucapnya mencoba mengurangi rasa panik Jongin

Jongin menatap Jiyo seolah bertanya ‘Benarkah?’ yang dibalas anggukan kecil dari Jiyo

“Tapi, aku merindukanmu Kai samchon”  seru Jiyo polos

Jongin mendekat dan memberi kecupan singkat di kening bocah imut tersebut. Soyeon yang melihat hal itu tersentuh, bahkan Jongin lebih baik daripada appa kandungnya sendiri.

“Kai-a, sudahlah. Hentikan rencanamu untuk membawa si brengsek Jaebum itu ke hadapanku. Aku sudah melupakan hal itu” ucap Soyeon yang membuat Jongin menatapnya dan berjalan mendekati wanita itu.

Soyeon baru sadar saat ia menyadari pakaian yang Jongin kenakan. Tuxedo? Tuxedo khas pernikahan?

“Noona-a, aku akan tetap menepati janjiku itu dan menghancurkan si brengsek Jaebum tersebut demi dirimu, noona-a” balas Jongin keras

“Kai-a, ada apa denganmu? Mengapa kau mengenakan Tuxedo yang seperti ini?” tanya Soyeon yang mebuat Jongin tersadar. Ia baru sadar bahwa ini hari pernikahannya dengan Taeyeon. tiba-tiba saja wajah Jongin berubah lebih panik daripasa mendengar berita Jiyo tertabrak.

Jongin menatap Soyeon pasti “Noona-a, maafkan aku, aku benar-benar harus pergi sekarang”

Saat itulah Jongin berlari dengan sekuat tenaga. Dan berharap ia bisa sampai dengan segera di Busan. ‘Taeyeon-a, tetap tunggu aku disana. Aku pasti datang’

==

Ruangan gereja itu satu persatu kehilangan tamunya. Sudah tiga jam acara pernikahan ini di undur namun belum juga ada kepastian dari sang mempelai. Tak jarang pendeta yang akan menikahkan manusia itu bertanya dan kembali kerumahnya.

Tuan Kim dan Nyonya Kim hanya bisa tertunduk pasrah dan malu saat mengetahui Jongin –calon suami putrinya- menghilang saat resepsi akan di selenggarakan. Hayeon tampak memeluk Taeyeon yang sedari tadi berusaha untuk tetap tegar. Walaupun ia tahu ini hanya pernikahan tipuan, tapi melihat wajah kecewa dan sedih dari kedua orang tuanya. Kim Jongin, bocah itu memang sialan, kurang ajar, tak tahu diri, menjijikan dan arggghhhh… segala sumpah serapah untuk Jongin tak bisa dipikirkan untuk Taeyeon lagi.

Wanita itu menghampiri orang tuanya yang terduduk lesu di barisan kursi terdepan

“Appa, Eomma, mianhae” ucapnya lirih

Tuan Kim menatap putrinya sendu “Ini bukan salahmu, ini salah laki-laki brengsek yang kurang ajar itu” ucapnya penuh dengan amarah yang memuncak

Taeyeon tersentak. Jika saja appanya mengetahui bahwa ini juga di rencanakan olehnya hanya demi seorang Kwon Jiyong, maka matilah ia.

“Appa, sebenarnya aku dan Jongin….”

“Kau dan dia kenapa?” tanya Appa saat Taeyeon menggantungkan ucapannya.

“….Jongin…” lagi, Taeyeon menggantungkan ucapannya

Sedikit menghela nafas panjang untuk segera melanjutkan ucapannya tiba-tiba saja sebuah suara musik khas biola dan violin memasuki gendang telinga Taeyeon. wanita itu menoleh ke asal suara yang berasal dari luar gereja. Tuan dan Nyonya Kim serta Hayeon juga ikut melirik ke asal musik tersebut. Mata keluarga terbelalak saat ia melihat beberapa orang menari dengan penuh suka cita serta membawa bunga mawar di tangan mereka masing-masing.

Saat barisan penari itu meminggir, dan tinggallah seorang penari yang sepertinya seorang pria tengah menari dengan bunga mawar besar yang menutupi wajahnya dan melangkah ke arah Taeyeon yang tengah ternganga.

Hayeon tersenyum sumringah saat menyadari bahwa si penari itu adalah Jongin. Calon kakak iparnya. Tuan dan Nyonya Kim kembali tersenyum bahkan lebih cerah dari sebelumnya. Ia tahu ini pasti Jongin

“Kim Taeyeon, mulai saat ini jadilah istriku” ucap sang penari dan dengan perlahan ia memperlihatkan wajah aslinya.

Jongin. Itu benar-benar Jongin. Taeyeon tersenyum dan ia merasakan matanya memanas. Bocah ini kelewat romantis. Taeyeon tanpa sadar memeluk erat Jongin dan memberikan kecupan singkat di pipi Jongin yang membuat Jongin ternganga tak percaya.

“Itu sebagai ucapan terimakasihku karena telah menyiapakan pesta meriah ini” ucap Taeyeon tersenyum manis. Jongin tersengat, Taeyeon terlihat sangat manis saat ini di matanya, dan ia sendiri bingung kenapa bisa ia berpikiran seperti itu.

“Kalian berdua telah sah” tiba-tiba terdengar asal suara dari arah yang berlawanan dari Taeyeon dan Jongin. Seorang pendeta.

Disaat itulah mereka berbagi tawa dan senang bersama.  Tuan Kim bahkan menangis melihat resepsi yang di persiapkan oleh Jongin. Jongin memang yang terbaik, begitulah menurutnya saat ini.

Taeyeon bahkan tak bisa menjelaskan suasan hatinya saat ini. Harus bersedih karena baru saja menyandang istri tipuan Kim Jongin atau bahagia saat Jongin menikahinya dengan acara yang sungguh romantis. Taeyeon benar-benar tak tahu.

TBC

Huwaaa mian lama lanjutannya, puasa ini sibuk dengan kerja dan sekolah. Dan mohon maaf atas si typo yang berkeliling dan juga si cerita aneh yang tersebar. Mungkin part ini ngak begitu bagus alias begitu hancur lebih hancur dari pada hati saya yang mengetahui bahwa album exo growl lebih mahal dari pada XOXO *huhuhuhu *deritakekuranganduit

Cerita ini akan tetap lanjut jika chingudeul semua mau berapartisipasi untuk meramaikan FF gaje ini dengan cara berkomentar hehehe, gak perlu pujian atau sanjungan kritikan dan cacian juga boleh kok asal dengan kosakata yang baik dan benar ya J

Seperti biasa,, mungkin saya emang menjengkelkan ya  hehehe 25 komen = lanjut next part

Gomawo~~~

Advertisements

5 thoughts on “My Fake Husband [2] Its not Bad Day, Maybe?

  1. ‘taeyeon-a tetap tunggu aku di sana, aku pasti datang’ kalimat jong in yg paling sesuatu, lebih dari kalimat menikahlah denganku.. Hahaha..
    Cieeee akhirnya taeng nikah… Hampir aja eomma dan appa taeyeon benci ama jong in.. Thanks saeng buat updateannya

  2. You post interesting content here. Your website deserves
    much more visitors. It can go viral if you give it initial boost, i know useful service that can help you, simply search in google: svetsern traffic tips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s