My Fake husband [1] Who Are You?

MFH

Tittle : My Fake Husband [1] Who Are You?

Author : Yufikee

Cast : Kim Taeyeon (GG), Kai (EXO)

Length : Series

Genre : Romance

Rating : PG 16

Disclaimer : Art and fanfict by me

prev part : [0,5]

==

Taeyeon menatap tajam pemuda yang sedang berbincang sambil tertawa renyah bersama anggota keluarganya. Pemuda itu memang tampan dan senyumannya Taeyeon akui sangat mempesona. Namun bagaimanapun tampan dan manisnya senyumannya, Taeyeon sangat mengutuki si pemilik wajah tersebut.

“Jadi sudah berapa lama kau mengenal Taeyeon kami?” tanya Appa Taeyeon masih dengan senyuman yang melekat di wajahnya. Taeyeon berani jamin, itu pertama kalinya ia melihat appanya tersenyum seramah itu.

Pemuda itu tersenyum dan memandang lembut Taeyeon sekilas “Hampir berjalan 6 bulan”

Taeyeon menganga lebar. Pemuda brengsek. Selama 30 menit ia mengatakan 6 bulan? Andai saja ia bisa menjahit mulut pemuda itu, mungkin pemuda itu tak akan mengatakan hal yang aneh lagi.

“Aniyo!” tegas Taeyeon cepat. “Ia baru saja aku kenal selama beberapa menit!” sambungnya lagi

Mata orang tuanya dan juga Hayeon menoleh ke arahnya. Taeyeon berharap mereka akan percaya dengan hal itu. Namun beberapa saat kemudian eommanya angkat bicara “Kau jangan berbohong! Kenapa harus menyembunyikan hubunganmu dengan Jongin?”

Seringaian pemuda itu –Jongin- tampak melebar. Sementara Taeyeon yang menyadari bahwa Jongin tengah menyeringai membuat Taeyeon menatap dengan tatapan kesal.

Taeyeon sudah tak bisa menahan amarahnya. Ia bangkit dari duduknya dengan cukup mengagetkan keluarganya dan juga Jongin.

“Sudah berapa kali aku bilang, dia bukan calon suamiku! Dia hanya seorang pemuda yang mengaku sopir taksi dan mengatakan bahwa sudah mengenalku selama 6 bulan!”

Keluarga Taeyeon sontak terkaget. Taeyeon wajahnya merah padam karena marah yang memuncak. Terlebih lagi wanita itu meninggikan volume suaranya.

Jongin menatap Taeyeon datar tanpa ekspresi. Taeyeon menatap Jongin kesal. Ia mengeluarkan seluruh tatapan kemarahannya untuk Jongin. “Sebenarnya kau itu siapa? Aku akan memberikan ongkos lebih untukmu, tapi aku mohon jangan mengarang cerita yang aneh-aneh lagi” kali ini terdengar suara frustasi dari Taeyeon. kali ini Taeyeon mencoba menahan air matanya yang hampir saja jatuh.

Jongin masih menatap Taeyeon “Mianhae, sudah membuatmu cemburu, gadis tadi hanya adik temanku, percayalah” kata-kata terucap dari mulut Jongin dengan nada yang sangat bijaksana namun menggelikan di telinga Taeyeon. oh tuhan, apalagi yang akan dikarang oleh bocah ini?

“Hahaha, jadi kau marah dan tak mengakui kekasihmu karena kau cemburu buta ya?” celetuk eomma Taeyeon. detik berikutnya Hayeon pun mengeluarkan suaranya “Eonni, kau sungguh kekanak-kanakan”

Taeyeon mendecak kesal. Ia berbalik pergi meninggalkan perdebatan yang menyulitkan itu. Sebelumya ia menatap Jongin geram “Dan kau Kim Jongin, aku benar-benar tak tahu siapa kau dan apa maksudmu dengan semua ini. Tapi kumohon berhenti mengarang, bocah” setelah itu ia pergi memasuki kamarnya dengan hentakan kaki yang berbunyi keras serta  pintu yang ia hempaskan kuat-kuat.

Jongin menatap kepergian Taeyeon dengan seksama. Ada perasaan bersalah yang ia rasakan. Tapi, ini satu-satunya cara agar ia bisa hidup di Busan selama 2 bulan tanpa uang sepersen pun. Sebenarnya ia tak ada niat untuk melakukan hal ini, namun saat melihat Taeyeon yang terlihat sangat lelah saat melambaikan tangannya di depan mobilnya, tiba-tiba saja ide gila itu muncul. Jongin memang belum tahu status Taeyeon saat itu, jika saja Taeyeon sudah bersuami, mungkin ia akan menyamar sebagai orang yang sedang melakukan penelitian untuk tugas perkuliahan. Namun ternyata Taeyeon adalah seorang wanita tua yang belum bersuami.

“Jongin-ssi, ceritakan bagaimana caramu bisa bertemu dengan Taeyeon?” setelah Taeyeon masuk dan menutup dirinya dikamarnya, suara appa Taeyeon kembali terdengar

Jongin sedikit menimbang-nimbang cerita apa yang bagus untuk membuatnya terlihat sebagai calon menantu yang baik. Menantu selama 2 bulan, tentu saja.

“Aku bertemu dengannya saat hujan, saat itu Taeyeoni berlari dengan cepat dan tak menyadari bahwa aku ada di depannya” karangnya sambil tersenyum manis seperti memang mengenang kejadian yang tak pernah ada sama sekali.

“Wah, romantis sekali” ucap Hayeon sambil diiringi tepukan tangan yang ringan.

Jongin mengeluarkan senyum manisnya. Ini terlalu mudah. Bahkan terlalu mudah. Benar-benar keluarga yang mudah di tipu.

“Oh ya, tadi kau bilang usiamu 25 tahun? Berarti Taeyeon adalah noonamu?” eomma bersuara

Jongin hanya tersenyum. Kemudian pria itu mengangguk.

“Jongin-ssi, disini tidak ada kamar kosong, jadi jika kau ingin menginap mungkin kau akan menumpang di salah satu kamar penghuni rumah ini” sahut appa dengan menyeruput teh hijau yang baru ia minum dan telah dingin.

“Ah, kalau begitu tidak masalah” ucapnya ramah

Namun detik berikutnya keluarga itu berbisik-bisik membicarakan sesuatu. Jongin benar-benar penasaran dengan yang didiskusikan oleh mereka. Saat ia baru saja akan menajamkan pendengarannya, keluarga itu berbalik menatap Jongin, membuat ia sedikit salah tingkah.

“Apakah kau dengan Taeyeon sudah pernah…” appa menggantungkan kalimatnya lalu mengambil nafas sebelum melanjutkan kalimatnya “Kau dan Taeyeon pernah melakukan sesuatu itu?”

Jongin terheran. Sedetik kemudian ia mengerti dengan maksu pertanyaan dari pria tua yang di hadapannya ini. Ia menyeringai lebar. Berbohong untuk mempermudah hidup tak ada salahnyakan?

“Tentu saja pernah, bahkan sering” ucapnya mantap dan tawa keluarga itu pun meledak tak tertahankan.

==

Taeyeon mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk di pupilnya. Ia tertidur dan samapi melupakan jatah makan malamnya yang sangat jarang ia tinggalkan. Kemarin adalah hari yang benar-benar melelahkan. Seorang pemuda gila itu ia harap hanya sebagian dari mimpi buruknya yang sering datang. Tapi, Taeyeon lebih memilih memimpikan seekor ular melilitnya kuat-kuat dari pada harus memimpikan pemuda gila yang mengaku calon suaminya.

Taeyeon meraba-raba seluruh sisi kasurnya. Matanya terbelalak saat tangannya dapat merasakan sesuatu. Sesuatu seperti manusia. Nafasnya memburu, ini tentu saja bukan mimpi. Dengan perlahan ia menolehkan kepalanya melihat sesuatu yang membuatnya ketakutan setengah mati di pagi hari.

Betapa terkejutnya wanita itu saat ia melihat seorang pria yang tengah tertidur pulas disampingnya tanpa mengenakan pakaian. Oke, Taeyeon masih berharap ia masih mengenakan pakaian lengkapnya dan tentu saja ia juga berharap pria itu hanya tak mengenakan bajunya.

Gigi Taeyeon merapat. Dengan kuat ia menendang tubuh pria itu hingga berguling ke bawah. Taeyeon bersyukur pria itu masih mengenakan jeans selututnya.

“YA!” pekik pria itu dan bangkit dari posisinya yang terlungkup jatuh

“Apa yang kau lakukan dikamarku, bocah sialan?’ ucap Taeyeon sambil melempar gulingnya ke arah Jongin.. matanya masih saja menyiratkan kemarahan tak terkendali.

Jongin menyeringai singkat “Tentu saja tidur bersama calon istriku”

Telinga Taeyeon memanas. Bocah kurang ajar!

“Calon suami? Aku tak akan pernah sudi memiliki suami bocah sepertimu. Jangan membuatku pusing, sebenarnya kau siapa, ha?” Taeyeon mencoba mengatur nafasnya yang memburu kencang.

“Aku? Tentu saja calon suamimu” jawab Jongin tersenyum senang

“Jangan bercanda!” hardik Taeyeon

Jongin mendekat perlahan ke arah Taeyeon membuat wanita itu refleks berjalan mundur.

Jongin semakin mendekat dan kini tangannya melingkar sempurna di pinggang Taeyeon. Taeyeon bergidik ngeri. Mata Jongin menatapnya tajam. Taeyeon bahkan sulit untuk sekadar menelan ludah terutama bernafas. Ia benar-benar terpaku dengan tatapan itu. Bocah ini memang sangat tampan.

Taeyeon mencoba menguasai dirinya saat ia merasakan wajah Jongin semakin mendekat.  Belum lagi dengan keadaan Jongin yang benar-benar memnuatnya gugup setengah mati membuat jantungnya berdebar kencang. Dengan cepat ia mengadukan kepalanya dengan kepala Jongin dengan kuat. Membuat Jongin melepaskan tangannya di pinggang Taeyeon

“Aww” rintih Jongin keras sambil mengelus-elus dahinya yang sedikit nyeri

“CEPAT KELUAR DARI KAMARKU!!!”

==

Taeyeon mempercepat langkahnya saat suara klakson mobil Jongin selalu berbunyi memekakkan telinganya saat ini. Mulutnya juga merutuk-rutuk orang tuanya yang dengan mudahnya memperbolehkan Jongin untuk tidur dengannya hanya beralasankan bahwa Jongin calon suami Taeyeon.

“Taeyeon, berhenti” Teriak Jongin dari dalam mobil

Taeyeon tak mengubrisnya sama sekali. Jongin benar-benar tak mengenal kata hormat. Dengan seenaknya ia memanggil Taeyeon dengan embel-embel –ssi atau noona.

Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti saat kakinya hampir saja di serempet oleh mobil Jongin. Ia merutuk tindakan Jongin ini. Bisa-bisa saja ia akan kehilangan kakinya ini.

“YA! Kim Jongin sebenarnya apa maumu?” Taeyeon berucap dengan nada lemah. Ia benar-benar kehilangan tenaganya semenjak kejadian kemarin yang terjadi di hidupnya.

Tanpa berkat-kata, Jongin keluar dari mobilnya dan memaksa Taeyeon untuk duduk disamping kursi pengemudi. Taeyeon hanya mengikuti pasrah setiap tindakan yang Jongin lakukan. Ia sudah terlalu lelah untuk melawan. Sangat lelah.

Jongin melajukan mobilnya tanpa berbicara sepatah kata pun. Taeyeon memijit sudut pelipisnya mencoba memberi ketenangan pada dirinya.

“Aku tahu kau sangat pusing memikirkan nasibmu sejak kedatanganku kemarin malam, tapi tenang saja ini hanya bersifat sementara” perkataan dingin ini keluar dari mulut Jongin. Jongin memiliki dua sisi, saat ia bersama dengan keluarga Taeyeon ia terlihat begitu ramah dan sering memamerkan senyumnya, namun saat bersama Taeyeon ia sangat dingin.

“Bagaimana bisa kau bepikir seperti itu, ha? Bahkan orang tuaku sudah merencanakan tanggal pernikahan kita” ucap Taeyeon tak kalah dinginnya.

“Baiklah, bagaimana jika kita bekerja sama? Apa kau pikir aku mau menikahi seorang wanita tua sepertimu?” Jongin berkata sangat ketus. Taeyeon yang mendengar hal tersebut menatap Jongin tajam.

“Memangnya siapa juga yang ingin menikah dengan bocah gila sepertimu?” balas Taeyeon tak kalah sengit

“AKU BUKAN BOCAH GILA!”

“AKU JUGA BUKAN WANITA TUA!”

Suasana berapi terasa jelas saat ini. Keduanya tak ada yang ingin menghentikan aksi saling menyindir ini. Jika saja mereka beradu mulut diluar maka tak jarang orang-orang akan menutup telinga mendengar pekikan-pekikan yang dikeluarkan oleh dua makhluk ini.

“Baiklah, aku mengalah denganmu, bocah” Taeyeon beralih menatap jendela dan ikut menyisiri jalanan luar.

“Sudah kubilang jangan menyebutku sebagai bocah!” Jongin tetap bersikeras

“Terserah”

Lima menit berlalu dengan keheningan. Hanya suara deru mobil Jongin yang mengisi keheningan dua manusia yang baru saj berdebat dengan hebohnya.

Jongin mencuri pandang sekilas ke arah Taeyeon. ia melihat Taeyeon yang masih dengan tampang berangnya. Jujur saja ia sedikit iba dengan wanita itu.  Bagaimana pun juga, tak ada wanita yang akan santai saja saat orang asing mengaku sebagai suaminya. Bahkan jika Jongin sendiri yang menjadi wanitanya, ia rasa ia tak akan sekuat Taeyeon.

“Dimana alamatmu bekerja?” tanya Jongin mencoba membuat Taeyeon melunturkan wajah kesalnya.

Tanpa menoleh sedikitpun Taeyeon membalas “Bukankah kau calon suamiku, seharusnya kau tahu dimana aku bekerja” sindir Taeyeon dingin.

Jongin mendecak “Aku serius”

“Setelah lampu merah perempatan belok kiri, di situ ada halte bus jadi berhentikan saja aku disana” ucap Taeyeon tegas

Jongin mengangguk dan berjalan menuruti ucapan Taeyeon tersebut “Kau ingin naik bus? Sudah kubilang, biar aku yang antar”

Taeyeon menatap tajam Jongin. “Sebenarnya apa maumu, ha?” Taeyeon mengalihkan pembicaraan. Itulah yang sedari tadi ia pikirkan sehingga perutnya benar-benar kekurangan karbohidrat karena otak yang lebih mengambil pasokan tersebut.

“Aku ingin menikahimu”

“Aku serius!” Taeyeon benar-benar kesal. Rasanya ia ingin sekali mencatok wajah tampan Jongin tersebut.

Jongin menoleh sekilas, setelah itu ia kembali berkonsentrasi pada kemudinya. Helaan nafas panjang terdengar sebelum ia memulai membuka mulut.

“Aku butuh tumpangan dan biaya hidup selama dua bulan di Busan, jadi hanya dengan menikahimulah aku bisa hidup aman di Busan” ucapnya membuka cerita

Taeyeon menggelengkan kepalanya tak percaya. Alasan konyol. Biaya hidup dengan membuat nasib sial pada dirinya. Benar-benar bocah sialan.

“Kenapa harus aku?  Cari saja Ahjumma yang suka dengan bocah seusiamu!”

Jongin menatap kesal Taeyeon. bocah itu benar-benar membuatnya tersindir. “Sudah kubilang jangan memanggilku bocah, wanita tua! Kau itu yang kebetulan bisa berada dalam permainanku, lagipula ternyata tebakanku benar mengenai dirimu”

“Maksudnya?”

“Aku menebak bahwa kau adalah seorang wanita tua yang sangat sulit untuk mencari pendamping hidup dan tentu saja keluargamu selalu memaksa untuk segera menikah, dan ternyata itu semua benar, bukan?”

Taeyeon menggumam kesal “Jadi secara tidak langsung kau mengatakan aku tidak laku?”

“Tentu saja. Melihatmu tertidur saja aku tak terangsang sama sekali, apalagi saat kau sadar dan mengerikan seperti ini, kau semakin terlihat seperti Ahjumma yang takut uangnya habis oleh keponakannya” Jongin dengan enteng mengatakan hal tersebut dengan diiringi senyuman mengejek yang membuat rahang Taeyeon mengeras.

“Kurang ajar, turunkan aku disini!” bentak Taeyeon kuat. Jika bisa Taeyeon ingin sekali melenyapkan wajah Jongin sekarang juga.

“Tidak, sebelum kau menerima ajakanku untuk menikah” Jongin mengeluarkan senyuman yang bagi Taeyeon senyuman  kurang ajar. Seenaknya saja mengancamnya.

“Apa untungnya aku menerima tawaranmu itu, ha? Yang ada aku semakin gila!” ucap Taeyeon frustasi

“Setidaknya kau bebas dari peringatan orang tuamu untuk segera menikah”

Taeyeon terdiam. Ini memang keuntungan yang ia dapatkan jika saja ia menerima tawaran bocah brengsek tersebut. Tapi jika ia menikah, maka ia tak akan bisa menarik hati pria yang telah lama ia sukai.

Jongin menatap Taeyeon yang sedang berpikir

“Tenang saja, kita hanya menikah pura-pura selama dua bulan. Aku hanya memintamu untuk membiayaiku selama aku di Busan, tidak lebih. Aku juga mempunyai tawaran yang juga tak kalah menariknya untukmu” Jongin mengubah nada suaranya menjadi sedikit dingin

Taeyeon menoleh segera “Apa?”

“Kwon Jiyong, aku akan membuatmu mendapatkan Kwon Jiyong atasanmu sekaligus orang yang kau sukai diam-diam” jawab Jongin diiringin senyumnya yang khas menampilkan deret gigi disana.

“Ba..Bagaimana kau bisa tahu?”

Jongin menoleh “Tentu saja calon mertuaku dengan mulut lebar menceritakan setiap aib wanita tua yang ada dihadapanku”

Sial!

==

Jongin mengambil ponselnya mencoba membaca beberapa pesan yang baru saja masuk. Matanya tersenyum senang saat nama orang yang sangat dirindukannya tertera dalam pesan tersebut

Soyeon Noona

“Kai-a, bagaimana kabarmu selama di Busan? Menyenangkan? Kau tahu, Jiyo benar-benar merindukanmu! Sebenarnya apa yang kau berikan pada putri kecilku itu, hingga ia benar-benar menyukaimu? Cepat kembali, lupakan si pria brengsek itu. aku merindukanmu”

Pesan singkat itu begitu berharga dimata Jongin. Kai. Itu nama kecilnya di Seoul. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa memanggilnya dengan sebutan itu. Nama itu begitu berarti baginya. Soyeon noona-lah yang secara spontan memberikan nama tersebut untuk Jongin.

Jongin tersenyum lirih. “Aku bahkan tidak terlalu berharap putrimu yang menyukaiku, tapi yang sangat aku harapkan adalah kau yang membalas perasaanku” gumamnya seorang diri.

Bukan tanpa sebab Jongin berada di Busan tanpa uang sepersenpun. Ini adalah bukti keseriusannya dengan Soyeon, bahwa ia bisa hidup di Busan tanpa uang pemberian yang selalu dikirim ke rekeningnya. Lagipula ia memegang sebuah harapan di Busan. Ia ingin sekali menemukan pria yang dengan bangganya menghancurkan hidup Soyeon. Menghamili Soyeon atas dasar cinta, dan meninggalkannya begitu saja dengan janin yang ada dalam kandungan Soyeon.

Jongin sangat mencintai Soyeon, jauh sebelum Soyeon mengenal pria brengsek tersebut. Berkali-kali Jongin selalu mengatakan isi hatinya, dan berkali itu pula ia mendapatkan sebuah penolakan dari Soyeon.

Hingga Jongin dengan nekatnya melamar Soyeon langsung dihadapan orang tua wanita itu. Ia tak mempermasalahkan umurnya yang terpaut cukup jauh dengan Soyeon. Ia mencintai Soyeon, dan ia juga menerima keberadaan Jiyo sebagai anaknya.

Soyeon tentu saja tak tega menolak lamaran tersebut. Ia pun memberikan sebuah permintaan pada Jongin, yaitu mencari pria brengsek yang telah menghancurkannya, Park Jaebum.

==

“Kim Taeyeon-ssi?” sebuah suara seseorang membuat Taeyeon kembali pada kesadarannya. Ia mencoba mengerjapkan matanya berkali-kali. Permasalahan bocah kurang ajar itu berhasil mengambil alih seluruh isi otaknya. Ia bahkan melewatkan Jiyong yang baru saja memasuki ruang rapat.

“Oh, Sooyoung-ssi, ada apa?” tanyanya saat kesadarannya mulai ia dapatkan

“Kau tak harus masuk keruang rapat sekarang, bukan?”

Taeyeon tersentak di detik berikutnya. Ia menepuk kuat dahinya. “Astaga, aku lupa. Gomawo Sooyoung-ssi” Taeyeon berlari dan ia kembali saat ia menyadari bahwa berkas-berkasnya masih teronggok manis di atas meja.

Taeyeon merapikan sedikit rambutnya. Ia terlambat. Wanita itu berharap tak akan dimarahi oleh Jiyong. Ia harus tampil sebagai wanita yang wajib dilirik Jiyong.

Taeyeon masuk dan cukup bersyukur saat ia menerima senyuman manis bosnya tersebut. Ini adalah rapat yang sangat penting. Taeyeon akan naik jabatan jika ia berhasil meyakinkan klien untuk kali ini. Klien yang sudah sangat mendunia di bidang pariwisata. Park Jaebum

==

Jongin mengutak atik ponselnya mencoba mengalihkan rasa bosannya hampir tiga puluh menit pria itu menunggu Taeyeon di lobby tempat wanita itu bekerja. Berulang kali ia melirik kedalam memastikan wanita pendek itu keluar.

Ia berseru saat ia meliha sosok yang di tunggu-tunggunya sedari tadi.

“Taeyeon!”

Taeyeon melihat ke asal suara tersebut. Ia merutuk kesal saat mengetahui Jongin-lah yang menyerukan namanya. Langkah kakinya tampak tak bersemangat saat harus menghampiri sosok pria tinggi dengan kulit sedikit gelap tersebut.

“Kau datang menjemputku?” tanya Taeyeon langsung kemudian masuk ke mobil Jongin mengambil posisi di belakang.

Jongin yang melihat itu terkaget. Ia pun memasuki mobilnya dan segera mengambil posisi kemudi. Ia melirik Taeyeon yan tampak tersenyum tak jelas di belakang. Jongin sedikit kesal.

“YA! Pindah ke depan!” suruhnya datar

Taeyeon menoleh “Tidak mau!”

Jongin mendengus singkat “Kau pikir aku ini sopirmu? Pindah kedepan!”

Taeyeon tak mengubrisnya sama sekali. Wanita itu kembali larut dalam senyumannya yang sebelumnya. Ia berhasil meyakinkan klien terbesar Jiyong yang bernama Jaebum tadi. Tak jarang Jiyong memujinya seusai rapat pentingg tadi.

Jongin bergidik kesal. Dengan sengaja ia me-rem mendadak membuat wanita yang sedari tadi tersenyum itu meringis saat kepalanya berbenturan dengan kursi depan.

“YA!” hardiknya yang bisa saja membuat telinga Jongin pecah

“Sudah kubilang pindah ke depan, atau kau tak pulang dengan jantung normal” ucap Jongin dingin

“Dasar pemaksa!”

==

Taeyeon benar-benar membenci perjalanan bersama Kim Jongin. Bocah itu mengatakan jika ia pindah ke kursi depan, maka jantungnya akan normal saja, tapi itu semua bohong. Bocah itu tetap melanjutkan perjalanan dengan kecepatan gila. Taeyeon tak hentinya berteriak ketakutan sementara Jongin tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Taeyeon yang berlebihan.

“Hei, tunggu aku!” panggil Jongin cukup keras saat Taeyeon yang berjalan mendahuluinya

Taeyeonn semakin mempercepat langkahnya. Ia tak memperdulikan teriakan Jongin yang sangat di bencinya itu. Bocah kurang ajar, panggilan itu terdengar pantas untuk Taeyeon.

Taeyeon membuka pintu rumahnya. Matanya terbelalak saat ia melihat sesuatu yang sangat ia takutkan. Wajah sumringah orang tuanya dan adiknya terpampang jelas. Hayeon dengan sebuah gaun yang begitu indah tapi saat ini mengerikan di mata wanita itu orang tuanya yang sibuk menuliskan nama-nama keluarga yang dikenalnya. Kartu itu juga tampak menakutkan di mata Taeyeon. kartu undangan.

Jongin juga tak kalah terkejutnya. Tapi ia tersenyum singkat saat mengetahui rencananya sangat mudah untuk dijalani.

Taeyeon mendekat perlahan ke arah orang tuanya “Ini semua apa maksudnya?” tanya pelan

Jongin menatap lirih Taeyeon. ia benar-benar meminta maaf dalam hati.

Eomma balas tersenyum “Tentu saja persiapan pernikahanmu bersama Jongin, kau bisa melaksanakannya lusa”

Seketika itu juga Taeyeon lemas tak berdaya. Jongin dengan segera memegang badan Taeyeon yang hampir saja jatuh. Namun Taeyeon memberi sengatan mata yang tajam.

“Kau?” ucapnya penuh marah “Kau benar-benar bocah sialan! Aku membencimu, Kim Jongin!” detik berikutnya Taeyeon pingsan dalam dekapan Jongin yang menatapnya datar

TBC

Akhirntya post juga,, aku senang target 20 komen tercapai, gomawo untuk yang mau komen. Maksud aku melakukan permintaan komen minimal adalah untuk mengurangi sidersssss yang banyak. Seorang author abal-abal kayak aku butuh dukungan dan kritikan yang membangun agar semangat dan lebih baik dalam penulisan FF.. aku benar-benar BERTERIMAKASIH PADA CHINGUDEUL YANG UDAH MAU KOMEN DAN LIKE~ SARANGHAE

Oke karna yang komen di part [0,5] sebanyak 25 orang, maka saat ini aku berharap ada 25 komen lebih #amin

Gomawo udah mau RCL J

Advertisements

5 thoughts on “My Fake husband [1] Who Are You?

  1. jongin bner2 bocah gila, tp taeyeon bukan wanita tua… #hammer jongin… Aissh… Jongin suka noona2 nih… Gak dpt soyeon dpt taeyeon…
    Org tua taeyeon kok bisa2nya percaya ama bocah gila n tengil macam jongin…. Ckckckck….

  2. Hehehe sori eon bilang taeng wanita tua 🙂

    kan ceritanya noona nomu yeppeo

    keluarga taeng udah kena sihir senyuman kai, makanya langsung percaya aja. . .
    Gomawo eom udah nyempetin baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s